April 6th, 2008 by bagus-sarjono
<a href="http://BikinDuit.com/?ref=bagase">
<img src="http://www.BikinDuit.com/b/ban5.gif" border="1"/></a>
<a href="http://BikinDuit.com/?ref=bagase">
<img src="http://www.BikinDuit.com/b/ban5.gif" border="1"/></a>
waktu terus berlalu…..
teruslah berusaha jangan pantang menyerah!
Surga cinta
Ada
BAnd
Intro: Am Em
Am Em Dm Em F G
Am Em
Am Em
Terdiam… hanya bisa diama
Dm
Em Dm
F
G
Dingin menyerang di sekujur tubuhku
Am
Em
Am Em
Layangkan mata, menembus cahaya
Dm Em Dm
F
G
Putih kilaunya, meneduhkan lamunan
Am
G F C Dm
E F
Masih jelas terlihat, pesona ayumu
Am
G F C
Masih jelas terasa
Dm
E
F
A
Getar damai jiwamu… ah… ah…
F
G
Em
Am
F
G C
Reff: Inikah surga cinta yang banyak orang pertanyakan
F
G Em
Am
F
G F
Atau hanya mimpi yang tiada pernah berakhir jua
Interlude: Am Dm
Em F G
Am
Em Am Em
Perlahan… bawa semua tanya
Dm Em Dm
F G
Satu bersama, langkah di taman ini
Am
G
F C Dm
Em F
Terangkai bunga tanda cinta murni adanya
Am
G F C
Dm Em
F
A
Tapi kekasih pun tiada muncul hapus rinduku… ah… ah…
Kembali ke: Reff
F
G Em
Am
F
G C
Dimana aku sedang berada, mengapa sendiri
F
G
Em Am
F
G
Lari telanjang tanpa seorangpun yang akan mau peduli
Int: Dm G (2X) E
Am F G Dm G Dm G E Am
F G A
Kembali ke: Reff
F
G
Em
Am
F
G C
Terbanglah cinta, sampaikanlah sayangku hanya bagi dia
F
G
Em Am
F
G F
Tak ingin rasa sepi merata…pi, malang tanpa dirinya
I can't remember anything
can't tell if this is true or dream
deep down inside I feel to scream
this terrible silence stops me
Now that the war is through with me,
I'm waking up I can not see
that there's not much left to me.
Nothing is real but pain now!
Hold my breath as I wish for death
Oh, please God wake me!
Back in the womb it's much to real in pumps life that I must feel
But can't look forward to reveal
look to the time when I'll live
Fed through the tube that sticks in me
just like a wartime novelty
tied to machines that make me be
cut this life off from me
Hold my breath as I wish for death
Oh, please God wake me!
Now the world is gone I'm just one.
Oh God help me!
Hold my breath as I wish for death. Oh,please God wake me!
Dark-ness imprisoning me all that I see absolute hor-ror
I can-not live I can-not die Trapped in my-self body my holdind cell!
Land-mine has taken my sight taken my speech taken my hear-ing
Taken my arms taken my legs taken my soul left me with life in
hell!
Tokoh mitologi yunani, yang jatuh cinta
terhadap dirinya sendiri.
Tiap kali memandang dirinya ke permukaan
air,
Narsisus kagum akan ketampanan wajahnya.
Betapa banyak peri hutan yang merasa iri
kepada telaga,
tempat tiap pagi
Narsisus mengagumi dirinya. “Enak ya kamu, tiap pagi memandang wajah tampan dan
mata yang jernih itu,” kata peri hutan.
“Tampan dan jernihkah matanya?” jawab
telaga. Lho, bukannya kamu melihatnya tiap pagi bukan?”
“Tidak aku tak sempat melihatnya sebab tiap
kali ia jongkok di tepiku, aku sibuk memendang kejernihan wajahku sendiri yang
terpantul di matanya.”
Dapat diambil kesimpulan dari kisah
Narsisus dan telaga di atas, bahwa si telaga, mungkin maksudnya kita—sering
lebih narsisus daripada narsisus sendiri. Sering kita berperilaku tak sehat,
narsisme, tetapi tak menyadari bahwa kita mengidap gangguan jiwa.
Kita tidak boleh terlalu lemah,
terus-menerus naïf, cengeng dan mentah dalam menyikapi tokoh. Kita tak boleh terlalu dekat Narsisus.
MUTASI GENETIS SETIAP
ETNIS MEMENGARUHI PENYEBARAN PENYAKIT
Nenek moyang manusia berbahasa Austronesia dari kepulauan
Nusantara akan meninggalkan jejak penyebarannya, tidak hanya dalam bentuk marka
genetik dan catatan arkeologi tetapi juga penyakit yang berkaitan dengan
struktur populasi. Lembaga Eijkman telah memulai suatu studi tentang distribusi
penyakit pada berbagai populasi etnis di Indonesia, dan menghubungkannya dengan
struktur populasi kepulauan Nusantara.
Tiga kelompok dapat diamati: populasi berbahasa Austronesia dari daerah
Indonesia barat (Sumatra, Jawa and Kalimantan), populasi IndonesiaTimur
(Sulawesi dan Nusa Tenggara), dan populasi non-Austronesia dari Nusa Tenggara
serta Papua. Terlihat adanya variasi pada karakteristik populasi. Distribusi
mutasi yang mendasari kelainan gen tunggal seperti thalassemia yang merupakan
penyakit genetik utama di Indonesia ternyata sesuai dengan struktur populasi.
Lebih dari 5,000 sampel dari sekitar 40 populasi etnis telah
dikumpulkan dan diperiksa; untuk struktur populasi menggunakan analisis variasi
sekuens pada DNA mitokondria (mtDNA) dan kromosom Y; dan belakangan ini melalui
genotipe total genom Single Nucleotide Polymorphisme (SNP). Genom manusia dalam
inti mengandung banyak sekali DNA mikrosatelit yaitu urutan basa berulang yang
sangat bervariasi antar individu baik dalam ukuran maupun panjangnya sehingga
dapat digunakan untuk identifikasi, terutama dengan menggunakan short tandem
repeats (STR). MtDNA meiliki karakteristik untuk studi populasi karena jumlah
kopi mtDNA yang tinggi, tidak ada rekombinasi dan diturunkan secara maternal.
Untuk melihat penurunan paternal, digunakan analisis kromosom Y yang memiliki
sifat sama seperti mtDNA, tidak mengalami rekombinasi.
Belakangan ini kami mulai menjawab pertanyaan, apakah distribusi epidemiologik
penyakit infeksi tertentu juga berhubungan dengan struktur populasi yang
mungkin berkembang melalui kejadian migrasi purba. Hal ini terutama, mengenai
virus Hepatitis B (HBV) dimana transmisi terjadi terutama secara vertikal yang
sangat menyerupai transmisi genom mitokondria manusia. Keragaman genetik HBV
juga memiliki dampak medik. Penelitian menggunakan SNP dari daerah Pre-S2 genom
HBV menunjukkan subgenotip spesifik populasi HBV/B – Bj, Bc, Bwi and Bei (pada
Jepang, Cina, Indonesia barat dan Indonesia timur). HBV/C merupakan genotype
utama di Asia daratan dan Papua, sedangkan HBV/B dominant di antara populasi
berbahasa Austronesia. Hasil studi memberikan wawasan baru penyebaran
Austronesia dan juga makna medik.
Hasil studi tersebut menyimpulkan bahwa (a) beberapa penyakit terlihat
berhubungan dengan penyebaran orang-orang berbahasa Austronesia dan (b) sebagai
akibatnya akan memberikan marka yang unik bagi migrasi Austronesia purba.
Lebih lanjut:
Herawati Sudoyo, Ph.D.
Lembaga Eijkman, Jl. Diponegoro 69, Jakarta 10430
Journalist Scientific Gathering
Journalist Scientific Gathering adalah sebuah forum yang dikembangkan Majalah
National Geographic-Indonesia, yang mempertemukan para wartawan dengan berbagai
kalangan untuk mendiskusikan berbagai masalah aktual di dunia ilmu pengetahuan,
penemuan, perkembangan dan aplikasi teknologi baru, serta implikasinya terhadap
masyarakat Indonesia.
Dalam forum tersebut, National Geographic-Indonesia akan bekerjasama dengan
berbagai lembaga maupun para pakar dari dalam dan luar negeri dalam rangka ikut
menyebarkan hasil-hasil penelitian dari berbagai bidang ilmu.
Tema-tema dalam acara Journalist Gathering dapat diambil dari artikel yang
diterbitkan di Majalah National Geographic atau tema dari sumber lain yang
dianggap sesuai dengan misi Majalah National Geographic, yakni untuk
menyebarkan pengetahuan geografi. /NGI.
Dari sabang
sampai marauke itulah Indonesia, Republik Indonesia lebih baik disebut dengan
Republik Bahaya, bahaya ada dimana-mana tak ada yang bisa dipercaya. Apa yang terjadi selama reformasi telah
membawa kita kepada perubahan besar-besaran, selama delapan tahun terjadi
pergeseran moral, etika dan lainnya yang berbau nilai kemanusiaan yang
menyebabkan masyarakat kita menjadi lebih sensitife. Perubahan ekonomi membawa dampak yang kian
besar kemelaratan akibat hutang yang menumpuk. Delapan tahun sudah rupiah tidak bergeser dari posisi yang
menguntungkan, desember 2006 IHSG menembus level 1780 tetapi tidak membawa
perubahan ekonomi yang signifikan.
Indonesia itu bukan pulau Jawa.
Di Jawa petani memang tidak dimungkinkan memiliki lahan
yang luas, mengingat jumlah penduduknya yang melimpah.
Jadi pulau Jawa cocok untuk industri atau jasa. Pulau yang lain, dimana tanah cukup luas, kita bisa bergerak dalam bidang pertanian/peternakan, tetapi yang harus diperhatikan adalah kepastian hukum. Beberapa tahun 150 orang sarjana pertanian untuk ditempatkan di Sulawesi. Dari lamaran yang masuk, semuanya ingin ditempatkan di pulau Jawa dan Jakarta khususnya. Nggak ada satupun yang mau turun ke pelosok daerah. Jadi pemerintah perlu membuat suatu kebijakan dimana untuk sarjana pertanian/perkebunan yang rela bekerja di luar Jawa ada kompensasi tertentu, sehingga bisa bekerja secara maksimal sesuai dengan ilmu yang dimiliki. Pengetahuan tentang penerapan teknologipun sangat diperlukan. Dulu banyak padi traktor yang dibeli oleh para petani, tetapi karena pengetahuan yang kurang, akibat kerusakan kecil, terpaksa traktor tersebut menjadi besi tua. Yang sangat menyedihkan adalah kapal-kapal ikan nelayan asing yang tertangkap di perairan Indonesia, ternyata tidak dapat dimanfaatkan para nelayan. Hal ini dikarenakan pada saat ditangkap, peralatan vital untuk menjalankan mesin diambil dan dibuang ke laut.
n the applied
sense, Biological Control (bio-control) may be defined
simply as utilization of natural enemies (Parasitoids,
Predators, Pathogens) to reduce the damage caused by noxious
organisms to tolerable levels. Biological pest control has a
background of thousands of years in the world. The ancient
examples of employment of cats by Egyptians to control
rodents and ants by Chinese to control citrus pests are the
sound evidence of applied biological control in old times.
Insect predation was recognized at an early date growers in
Yemen went to North Africa to collect colonies of predaceous
ants which they colonized in date groves to control various
pests. Recent attempts started when Myna bird was introduced
to Mauritius for locust control from India. The most
important turning point happened when Australian beetle was
introduced to America to control Australian scale. The same
phenomenon was repeated in 1933 which was a turning point in
biological control in Iran. Afterwards, a wide effort began
by entomologist across the globe to explore the natural
enemies of indigenous and exogenous pests. Therefore, a huge
knowledge of biological pest control has been complied in
this century.