Narsisus

Tokoh mitologi yunani, yang jatuh cinta
terhadap dirinya sendiri.

Tiap kali memandang dirinya ke permukaan
air,

Narsisus kagum akan ketampanan wajahnya.

Betapa banyak peri hutan yang merasa iri
kepada telaga,

tempat tiap pagi
Narsisus mengagumi dirinya. “Enak ya kamu, tiap pagi memandang wajah tampan dan
mata yang jernih itu,” kata peri hutan.

“Tampan dan jernihkah matanya?” jawab
telaga. Lho,  bukannya kamu melihatnya tiap pagi bukan?”

“Tidak aku tak sempat melihatnya sebab tiap
kali ia jongkok di tepiku, aku sibuk memendang kejernihan wajahku sendiri yang
terpantul di matanya.”

 

Dapat diambil kesimpulan dari kisah
Narsisus dan telaga di atas, bahwa si telaga, mungkin maksudnya kita—sering
lebih narsisus daripada narsisus sendiri. Sering kita berperilaku tak sehat,
narsisme, tetapi tak menyadari bahwa kita mengidap gangguan jiwa. 

 

Kita tidak boleh terlalu lemah,
terus-menerus naïf, cengeng dan mentah dalam menyikapi tokoh. Kita tak boleh terlalu dekat Narsisus.

Leave a Reply